rasa pedas, sebuah candu.....

ada suatu saat dimana gw pernah bosan dengan rasa manis.....
bikin haus....
juga kadang gw pernah bosen sama rasa asin....
bikin haus juga....

tapi yang gak pernah bikin gw bosan adalah rasa pedas....

==========================================================================
gw ini pada prinsipnya adalah penggemar rasa pedas, mungkin karena lidah gw ini lidahnya orang melayu yang toleran, bahkan menyambut gembira pada rasa pedas.
bisa dikata, makan tanpa sedikitpun rasa cabe sama saja dengan makan nasi putih hambar....

gw sempat merenung (ah...padahal gak terlalu pantas buat direnungi), pada saat gw lagi makan gorengan, satu gorengan bisa gw makan dengan paling tidak 3 sampai 5 buah cabe rawit, kadang itupun masih gw cocol lagi sama saus sambel.
saat itu gw menyadari (ah...padahal gak terlalu pantas buat disadari), bahwa kalo gw makan pake cabe, gw merasa kepedesan (ya iyalah...), tapi begitu di gigitan berikutnya tidak gw sertai dengan kunyahan cabe rawit kok rasanya kurang gimanaaa...gitu...
jadi dari hasil perenungan dan penyadaran gw tadi itu, gw berkesimpulan bahwa bagi gw cabe itu seperti candu (hehe...nyambung gak ya..), tanpa cabe gw selalu merasa ketagihan.....

hmmm.........kok gw jadi merindukan nasi panas, ikan goreng, kerupuk dan sambal tumis ya....

========================================================================
yah....buat orang yang udah lama gak ngeblog....gw cukup puas dengan postingan ini....

                            

......

hmm...udah lama blog ini gak ditengok....
(membersihkan sarang laba-laba yang bergantungan..)

aduh, maaf ya....gw beres-beres dulu....
maaf berantakan...

dalam badai

sebuah kebanggaan yang tersisa, yang masih gw pegang sampe saat ini terancam runtuh.....

atau mungkin memang sudah runtuh, lalu lenyap?

hanya saja gw gak menyadari

atau gw yang gak mau menyadari?

sebuah suara licik (atau bijak? entahlah...saat ini sudah nggak ada bedanya) berbisik pelan...
"....sudahlah....untuk apa berjuang untuk sesuatu yang sia-sia...mundur...dan pergilah...tak perlu malu...jadi pecundang itu bukanlah sebuah dosa....."

samar gw mendengar tawa terbahak-bahak....suara licik (bijak?) itukah yang tertawa?

cih....bahkan hati kecil gw pun menertawakan....

sementara gw masih berpegangan pada pedang ini...

pedang yang gw tancapkan ke pasir...

pedang yang gw jadikan pegangan kala menghadapi badai yang makin ganas menerpa

ah..hanya perasaan gw....atau memang benar...

tubuh gw mulai meluruh...perlahan seiring hantaman badai....

dan gw masih tetap bertahan disini....

========================================================================

Now Playing at Playlist : Too Much Love Will Kill You.Mp3--Queen

pintu 3 : pencerahan?

sebuah suara dari dalam kepala gw tiba-tiba muncul dan langsung nyeletuk :

ehmm...jangan cuma gedor-gedor pintu doank, donk...
yang terpenting adalah apa yang harus kamu lakukan ketika pintu itu terbuka?
kamu selalu meminta pintu itu terbuka, tapi apa kamu pernah mikir kalo pintunya kebuka kamu mau ngapain?

hmm....gw tiba-tiba terkesima...
iya ya...
gw selama ini cuma mengharap sang empunya rumah mendengar dan mau keluar, tapi gw belum (enggak) kepikiran gw mau ngapain kalo tuan rumah membuka pintu..

iya ya...gw mau ngapain ya?

dasar naif, pikiran lo pendek amat sih...
suara kecil itu berkomentar dari sudut-sudut ruang di kepala gw yang sempit ini

lo pikir lo bisa ngetok pintu rumah orang, pake gedor-gedor segala, lantas begitu pintunya kebuka dan tuan rumah nanyain ada perlu apa, lo cuma bilang, sambil cengengesan lagi, "Enggak Pak, saya cuma ngetok pintu bapak doank..."

gubrakk!!!

=======================================================================

mungkin memang benar....
gw sebaiknya juga mikirin apa yang mesti gw lakuin (tunjukin? tawarkan?) kalo pintunya kebuka..

intinya, jangan cuma bersiap untuk menang (ehm..), tapi juga bersiap gimana kalo kemenangan udah di tangan

kata orang, mempertahankan itu lebih sulit dari pada memenangi....
halah....

========================================================================

sebuah mihrab yang di terangi cahaya rembulan...
sebuah panggung dengan Gibson LesPaul di atasnya....
sebuah lapangan dengan dua gawang di masing-masing ujungnya...
sebuah perpustakaan dengan ribuan buku di dalamnya...
sebuah rumah mungil dengan pekarangan luas yang hijau...

hayah...ngayal aja...

refleksi

waktu masih di tingkat tiga dulu, seorang dosen (coba tebak, dosennya cowok apa cewek)pernah bertanya pada kami sekelas.
apa cita-cita kami dulu.
semua anak ditanya. ternyata jawabannya beragam. mulai dari jawaban standar : dokter, insinyur; sampe yang unik : artis, petinju.

gw dulu sebenernya pengen jadi astronot.
tapi ketika pertanyaan itu diajukan ke gw, yang keluar dari mulut gw adalah "Saya pengen jadi orang baik, Pak" (yup...buat anda yang menjawab cowok, gw kasih nilai seratus. buat yang jawab cewek, berusaha lagi, ya..)

kalo gw pikir-pikir, itu jawaban bodoh.
jadi orang baik itu bukan cita-cita.
jadi orang baik itu keharusan.
walaupun gw sangat yakin semua manusia di dunia ini tidak akan 100% jadi orang baik semua.
ya iyalah...kalo gak ada orang yang gak baik, buat apa ada orang baik? sebuah prinsip adil dan berimbang.

gw gak tau apakah gw sudah bisa digolongkan sebagai orang baik.
dan gw gak berani menghakimi diri sendiri.
karena yang berhak menghakimi adalah hakim, bukan jaksa..
maksud gw, biarlah orang lain (termasuk anda) yang berhak menilai.
kalau anda sudah menilai gw, dan ternyata gw bukanlah golongan orang baik, silakan sampaikan penilaian anda  ke gw.
gw terbuka atas segala kritik dan saran asalkan disampaikan lewat alamat di bawah ini (mengacungkan jari ke bawah sambil menggerakkannya bolak balik selebar dada. dada gw sendiri tentunya)
tapi bila anda menilai gw sudah termasuk golongan orang baik, tolong jangan sampaikan penilaian anda. cukup simpan saja dalam hati anda.

oke silakan menilai saya....

(hening sejenak.....................)

oke silakan sampaikan penilaian anda....

(...............................hening................)

lho kok pada diem??

(...............................hening...............)

ooh..oke..gw ngerti...
terimakasih...

========================================================================

gw sering sangat kagum pada orang yang baik.
gw sering menemukan dalam perjalanan hidup gw bermacam-macam orang baik.
juga sangat sering menerima kemurahan hati mereka.
hal itu yang membuat gw pengen jadi orang baik.
yang gw liat jadi orang baik itu begitu menyenangkan.
orang yang baik tidak perlu mengkhawatirkan prasangka-prasangka.
orang baik bisa menjalani hidupnya dengan tenang.
orang baik juga diterima oleh lingkungan sekitarnya
juga orang yang tetap jadi orang baik walaupun orang lain berlaku tidak baik kepadanya.

hfff........
(soundtrack : Nice Guys Finish Last.Mp3--Green Day)

========================================================================

gw gak tau, berapa banyak kebaikan yang sudah gw perbuat selama 23 tahun terakhir ini. jangan-jangan sudah terhapus oleh banyaknya perbuatan tidak baik.
juga gw gak tau apakah gw masih akan bisa berbuat baik di tahun-tahun berikutnya...
Turut Berduka Cita atas makin berkurangnya masa hidup gw...

untitled

sepotong kata mutiara yang gw comot dari buletin board,

Orang yang paling bahagia adalah orang
yang tidak merasa selalu membutuhkan
semua hal terbaik, mereka hanya
berfikir
bagaimana menciptakan semua hal menjadi
terbaik bagi mereka, yang berlalu dalam
hidupnya.

=========================================================================
entah apa maknanya. cuma gw seneng ngebacanya...

dua fragmen pagi ini

I

"kakak lo IPA apa IPS ?"
"IPA. Di keluarga gw tuh semuanya IPA. cuma gw sendiri yang nyungsep ke IPS. Bokap gw IPA, nyokap IPA, kakak-kakak gw juga IPA. jadi kalo kita lagi kumpul-kumpul gw tuh suka dicengin sama mereka"

percakapan di atas adalah sepenggal obrolan yang sempat gw tangkap di sela-sela deru KRL pagi ini. obrolan antara dua anak SMU yang keliatannya lagi menghapal buat tes. karena mereka sedang memegang buku dan sesekali menggumamkan sesuatu sambil mencongak.

ternyata perkembangan dunia SMU sejak gw lulus sedikit sekali. ternyata kebiasaan menghapal sebelum tes masih dilakukan oleh beberapa pelajar masa kini. ya..gw dulu juga gitu soalnya. tapi pernah juga gw gak pake acara menghapal sebelum tes. bukan karena udah siap, tapi karena gw lupa bahwa hari itu ada tes. bodoh.....

juga soal dikotomi IPA dan IPS.
kenapa ya kesannya IPA itu lebih baik daripada IPS?
hampir semua anak SMU berharap masuk jurusan IPA. bahkan ada juga yang bela-belain sampe pindah sekolah cuma agar bisa masuk IPA.
ya iyalah...kalo lo masuk jurusan IPA, lo bisa punya banyak pilihan untuk milih fakultas pada saat lo kuliah nanti.

milih? bukannya justru kita yang dipilih oleh Universitas untuk masuk ke jurusannya?
kalo kita bisa milih artinya kita bebas masuk fakultas mana aja, TANPA TES.
itu baru namanya milih.

gw gak tau gimana pendapat kalian soal IPA versus IPS ini. tapi gw dulu gak peduli sama yang namanya penjurusan. gw dulu juga dari jurusan IPA. tapi gw gak melihat apa manfaat gw dulu sekolah di jurusan IPA, kecuali bahwa gw jadi tau bahwa gw sangat lemah di bidang aljabar (integral, diferensial, eksponensial, logaritmasial, dan kawan-kawan-sial....), juga tak berdaya dalam perhitungan gerak Sentrifugal, kesulitan dalam menjelaskan apa perbedaan antara Ganggang dan Alga, serta tak pernah mampu memahami penyelesaian persamaan reduksi-oksidasi atawa Redoks.

juga apakah ada korelasi antara jurusan IPA dan bidang pekerjaan gw sekarang?
kalo misalnya ada, gw belom nemuin.

lha kok gw bisa masuk IPA?
karena saking gw gak pedulinya sama penjurusan, dulu waktu pengisian formulir minat penjurusan, gw gak ngisi. sampe sampe Wakasek bidang Kesiswaan manggil gw dan nanyain gw masuk jurusan apa?
gw jawab aja "ya..saya sih gimana nilai saya aja, Pak. kalo emang memadai buat masuk IPA saya terima aja masuk IPA, kalo emang cukupnya buat masuk IPS, ya saya juga gak keberatan"
dan sejarah mencatat saya masuk ke Jurusan IPA.

kenapa gw gak peduli soal penjurusan? karena bapak gw pernah ngasih tau bahwa banyak pegawai di kantornya justru punya latar belakang pendidikan yang tidak berhubungan sama kegiatannya.
seorang sarjana kehutanan yang jadi analis kredit. sarjana teknik mesin yang jadi kepala bagian SDM. mungkin di bidang lapangan kerja lainnya juga ada.
kalo udah gitu, apa gunanya masuk IPA atau IPS?

tapi kan saya pengen jadi dokter, insinyur, ahli nuklir?
ya silakan. kalo anda punya idealisme justru harus dipertahankan.
tapi kalo anda belom (gak) tau mau kemana anda setelah lulus SMU, seperti gw, gak perlu lah terlalu ngotot untuk mengejar IPA.
gengsi? itu cuma berlaku di sekolah.
paksaan orang tua? orang tua macam apa itu yang gak mengenali potensi anaknya?

lho kok gw jadi menggugat jurusan IPA?
bukan...bukan...poin yang ingin saya sampaikan adalah gak perlulah diciptakan kondisi seolah-olah IPA itu lebih baik dari IPS.
sama saja. tergantung minat dan kemampuan.




II

"gw mo masuk STAN kayaknya"
masih dari percakapan dua pelajar tadi.
kemudian percakapan terganggu noise....
....."tapi masuk STAN juga tinggi lho" (gw gak jelas apa maksudnya tinggi. mungkin sejenis passing Grade)
"yang masuk STAN anaknya pinter-pinter" (BWAHH!!! gw mau ketawa denger kata-kata itu....seandainya mereka tau orang macam apa gw ini....)eh...tapi bangga juga DIANGGAP pinter.
Tapi mereka kan gak ngomongin gw, tapi ngomongin mahasiswa STAN selain gw. lagian gw juga udah alumnus.

"iya juga ya....tetangga gw tuh ada yang anaknya pinter banget, pake kacamata,pake rok setengah gak lulus juga ikut ujian STAN"
(gw gak ngerti, kenapa anak dengan penampilan begitu selalu dianggap pinter...eh salah kebalik...kenapa anak pinter selalu diasosiasikan dengan penampilan seperti itu?)

lagi-lagi...untuk entah keberapa ratus kalinya, setiap ada perbincangan mengenai almamater gw itu gw kembali bersyukur dalam hati.

========================================================================

gw dedikasikan postingan ini untuk sekolah gw....dimanapun gw pernah mendapatkan pendidikan formal

Jam (waktu) yang Hilang

pagi ini gw ngerasa ada yang aneh terhadap pengindraan gw terhadap waktu...
gini lho, seperti biasa gw selalu mengeset alarm di weker gw (wekernya merk Nokia,lho...) agar berdering (atau bernyanyi? karena bunyi alarm gw adalah suara sang kapten di OST Spongebob..."..AAAAAHHH....WHO LIVES IN THE PINEAPPLE UNDER THE SEA....????? SPONGEBOB SQUAREPANTS...!!!) pada pukul 4 dinihari.

dan pagi ini alarm itu berdering (atau bernyanyi??) pada pukul 4 dinihari.
ya iyalah...kan emang disetel gitu..
oke, bukan itu masalahnya..

jadi gw sangat yakin bahwa gw terbangun pada pukul 4 dinihari (penting gak sih, diulang-ulang?) kurang.
karena saat gw tiba-tiba terbangun dan gw melihat ke angka yang tertera di display LCD adalah 03.59.
dan segera setelah itu alarm berdering (atau bernyanyi?? PLETAK!!! aduh...siapa yang tadi ngelempar bakiak???) pada pukul 4 dinihari...(oke..oke...gw gak akan ngulang-ngulang kata lagi...gw menghargai anda-anda yang sudah bersedia meluangkan waktu untuk membaca blog yang penuh pengula.....PLETAKK!!!DEGGHH!!!oke..oke..)

saat itu gw matiin alarm gw.
dan disinilah gw merasa aneh.
gw kemudian bangun karena hasrat gejolak di perut gw membuncah untuk segera dilakukan proses Sekresi (baca : Buang Air Besar) maka gw pun menuju kamar mandi kosan yang ada di bawah kamar gw.

saat itu gw merasa aneh...kok pintu pager kosan gw kebuka?
siapa yang pagi-pagi gini udah keluar?
biasanya kalo temen-temen yang mau solat subuh di masjid keluar pas azan.
ini kan masih pukul 4.
ah, gw gak sempet mikirin gituan...perut gw udah sangat bergejolak.
dan akhirnya hajat gw berhasil dilepaskan (di WC, tentunya).
salah satu kegiatan buang hajat paling nikmat, karena gw merasa ini baru pukul 4, so gw gak diburu-buru waktu....
ternyata kalo Buang Air Besar dalam keadaan santai itu nikmat...
(seakan tidak pedulu kalo ada pembaca yang kehilangan selera makan)

tapi lama-lama gw merasa aneh juga.
kok rasanya gak seperti pagi-pagi yang biasa ya?
gw ngerasa pagi ini terlalu tenang...gak ada suara Qori' dari masjid...
gw mulai curiga
gw pun melihat ke luar (tentu saja setelah prosesi gw selesaikan dan TKP telah dibersihkan) kok langitnya lebih terang dari biasanya?
hal itu masih gw pikirin sampe ketika gw masuk kamar dan melihat ke hape gw.
HAAH...pukul 05.30????

hei...apa yang terjadi dari pukul 4 sampe pukul setengah 6?
ngapain aja gw selama satu jam setengah?
tiba-tiba terbersit pikiran dalam benak gw...jangan-jangan gw terjebak dalam kondisi dimana sebagian waktu dalam hidup gw hilang. Kayak di film Click!.
Bedanya gw gak sadar.
atau bisa jadi ada orang iseng yang bisa menghentikan waktu berkat alat yang dibuat oleh Ilmuwan Sinting?
AAAKKKKHHHH....!!!! TIDAAAAKK....!!!!

apa-apaan ini?
gw mencoba kembali mengingat apa yang terjadi, tapi mengingat hari sudah mulai siang dan gw mesti buru-buru ke kantor, gw putuskan untuk memikirkan ini di perjalanan aja...
sinting...

gw pikir-pikir bisa jadi kemungkinannya gini :
1.abis gw matiin alarm, gw tidur lagi dan terbangun karena perut bergejolak. namun saking nyenyaknya gw tidur itu gw gak sadar bahwa gw sebenernya tidur sekitar satu jam.
hmm...masuk akal juga..

2.abis gw matiin alarm, tiba-tiba gw sakit perut dan langsung ke kamar mandi.
dan ternyata gw ketiduran di kamar mandi (wow...tidur sambil buang air besar?? dengan kloset jongkok??  pasti gw termasuk golongan superhero)
tapi kalo emang gw pas jam 4  udah bangun, trus yang buka pager kosan gw siapa?
gw yakin kalo malem pintu selalu dikunci.

3. Emang bener gw terjebak dalam kondisi dimana sebagian waktu dalam hidup gw hilang atau ada orang iseng yang bisa menghentikan waktu berkat alat yang dibuat oleh Ilmuwan Sinting.
terlalu Science-Fiction....

ada yang bisa bantu menjelaskan fenomena ini?
atau ada yang mau mengadopsi ini sebagai skenario film Box Office berikutnya?
Mas Steven? atau barangkali Mas Peter?

empat cacat kecil (copy paste mentah-mentah)

posting ini gw copy dan gw paste langsung dari sini.
sedikit banyak isinya sesuai sama cara pandang gw.

========================================================================
Empat Cacat Kecil

Percaya atau tidak, bagi saya bangsa ini tidak akan pernah maju. Setidaknya sampai 10 tahun mendatang.
Bukan mau mendoakan hal buruk. Tetapi semua itu semata karena kesimpulan dari perilaku yang dilakukan
masyarakat sendiri.

Demokrasi? Berjuang sejajar dengan bangsa lain? Mengejar pertumbuhan ekonomi? Ganyang Malaysia? Lawan antek kapitalis? Berantas korupsi?

S**T! Tidak akan pernah. Maaf, itu faktanya.

Persoalannya, bangsa kita lebih suka bercita-cita dan bermimpi menanggulangi hal-hal besar, daripada mengurusi cacat-cacat “kecil”. Padahal, dari yang kecillah kita dapat memahami bagaimana yang besar. Ada banyak cacat-cacat kecil, yang sadar tidak sadar kita selalu lakukan, dan menjadi “habit” alias kebiasaan, yang sejatinya itu adalah perbuatan buruk, teramat buruk. Dan saya selalu benci dengan orang-orang yang masuk golongan ini. Sampai kapan pun.

Silakan Buang Sampah Sembarangan

Betapa saya sering melihat banyak pria dan wanita, usia 20-40an, pakaian licin tersetrika, parlente pokoknya. Mereka kerap tampak duduk manis di kereta, bis, atau menunggu di halte dan stasiun. Tampilannya bergengsi, dan semua adalah cermin mereka sebagai kelas menengah yang membikin hati iri. Tapi lihatlah adegan berikutnya. Entah itu usai makan roti, membuka kulit buah jeruk atau menyobek bungkus majalah, mereka senantiasa melakukan hal “luar biasa”: sampahnya selalu dibuang begitu saja. Seolah sudah sewajarnya, tidak ada rasa aneh, canggung, apalagi bersalah.
Buang sampah sembarangan memang bukan cuma milik orang bawah/kecil yang kumuh dan lusuh. Kaum mentereng seperti di atas pun sama parahnya. Sampah, bagi mereka ini, ya sekadar sampah, yang harus dibuang segera. Celakanya: dibuang ke sembarang tempat. Kalau sudah begini, bagi saya, wajah cantik kinyis-kinyis, atau pria berdasi mahal, langsung jatuh derajatnya, sama seperti sampah, ketika mereka melakukan kebiasaan buruk itu.

The most egoistic person in the world

Kalau ada yang menanyakan kepada saya, siapakah orang paling egois sedunia, saya tidak menjawab George Bush, Tony Blair, atau John Howard. Jawaban paling tepat untuk itu (menurut saya) adalah para perokok, khususnya perokok di tempat umum. Merokok juga merupakan aktivitas yang saya tidak akan pernah bisa mengerti seumur hidup. Menghisap nikotin dan tar, berikut asap, ditelan lewat mulut, melalui tenggorokan, yang entah berapa juta bakteri nempel di sana, lalu masuk sebagian ke paru-parunya, dan separo lagi mengalir ke saluran hidung (entah kuman dan lendir apa saja yang ada di situ), untuk kemudian dihembuskan ke luar. Dan orang-orang di sekitarnya, yang tidak ada urusan dengannya, tidak pernah menyakitinya, tidak berbuat dosa kepadanya, tiba-tiba dipaksa menyedot asap yang sudah mampir dari mulut, tenggorokan, dan rongga hidungnya yang menjijikkan. Bayangkanlah...
Lebih gila lagi, ketika ditegur, si perokok malah marah, dengan dalih hak asasi. Lho, mana kata hak asasi itu ketika ia menghembuskan asap seenaknya ke khalayak?

Membangun Kerajaan di Jalanan

Tiga hari silam saya seperti biasa naik sepeda motor pagi hari ke stasiun. Di persimpangan Jalan Baru Bogor, saya harus berbelok ke kanan, menuju Cimanggu. Dari arah sana menuju Jalan Baru, kendaraan berderet-deret; macet. Sementara sebaliknya jalur ke sana lebih lengang. Tahu-tahu ada mobil L-300 mengangkut anak sekolah dengan santainya mengambil jalur itu dari arah Cimanggu. Dapat ditebak, semua kendaraan menuju sana jadi terhambat, dan akhirnya berhadap-hadapan dengan mobil itu (rupanya itu mobil yang mengantar anak sekolahan). Tentu saja tindakan supir gelo ini tidak dapat diterima. Eh, dia malah tanpa rasa bersalah menyuruh semua pengendara jalan pelan-pelan (harusnya dia yang mundur dan minta maaf karena mengambil jalur salah). Waktu saya tegur dia dengan kalimat ia seharusnya tertib, saya dihadiahi sebuah kata yang “indah” berikut wajah penuh amarah (hm, belajar dari mana dia ya, televisi? Saya sering lihat tampang marah seperti itu di hampir setiap sinetron) : “MONYET kamu!”

Saudara, yang menegur anda karena kebenaran saja disebut monyet, lalu bagaimana dia mendefinisikan dirinya sendiri? Babi, ulat keket, atau apa?
Jalanan seperti menjadi kerajaan tersendiri bagi setiap orang. Jalanan membuat orang yang salah tiba-tiba menjadi penguasa, dan orang yang taat peraturan tiba-tiba menjadi pesakitan. Mungkin anda pernah mengalami, ketika lampu merah menyala dan semua pengendara antri, tiba-tiba dari arah belakang makian supir menghampiri kita diiringi suara klakson bertubi-tubi, hanya karena meminta kita menerobos jalan, sebab persimpangan lengang. Persoalannya adalah: apakah karena jalanan lengang, maka lampu rambu jalan otomatis tidak perlu diindahkan? Atau, apa guna marka jalan? Gunanya, sudah pasti, untuk dilanggar.

Time is Mine, Not Yours

Kalau semisal anda diundang pengajian pukul 19.30 malam, pukul berapa anda tiba di tempat pengajian?
Jawab paling jujur mungkin pukul 20.00. Kenapa? Karena kalau kita datang pukul 19.30, kita bakal disebut sebagai orang paling pandir di dunia, mengingat jam segitu berarti anda lah orang pertama yang hadir.
Lihatlah undangan-undangan rapat dan seminar. Kebanyakan waktu yang tertulis tidak bisa ditepati. Malah sengaja dibuat dengan memasukkan unsur keterlambatan sekian menit sebagai skenario.
Susah bagi banyak dari kita untuk datang tepat waktu, dan meninggalkan yang datang terlambat. Ada seseorang yang pernah terlambat datang di suatu taklim dengan tanpa alasan yang kuat. Ketika ia ditolak masuk ke majelis oleh sang guru, yang muncul adalah reaksi ngambek, tersinggung, dipermalukan, dan marah, lalu tidak pernah lagi menghadiri taklim tersebut. Siapa salah siapa yang benar?

Jangan Pernah Berharap

Lagi-lagi, bagi saya, selama orang-orang Indonesia ini tidak bisa mengubah empat perilaku di atas, maka selamanya jangan pernah berharap kita bisa keluar dari krisis, dan menggapai kemakmuran. Nonsens.
Jangan pernah mengeluh soal penanganan korupsi yang lemah, DPR yang seperti TK, BBM yang naik, harkat bangsa yang terpuruk, atau kemajuan yang malah menjauh. Jangan, jangan pernah mengeluh soal itu. Tanya dulu diri kita masing-masing, apakah empat cacat kecil itu masih kita lakukan atau tidak. Jika masih melakukannya, janganlah lagi mengajukan pertanyaan. Percuma. Anda sama saja dengan mempermalukan diri sendiri. (ah)

========================================================================

kalo kata Aa Gym sih, (bukan...bukan Wasalamualaikum...)"....mulailah dari hal yang kecil...."

ah, gw juga bercermin.....siapa tau gw masih memiliki "cacat" tersebut...

untitled

akhir-akhir ini gw lagi seneng ngedengerin Bad Day-nya Daniel Powter
versi unpluggednya, yang cuma diiringi dentingan piano....
lagu ini gw puter berkali-kali...sambung menyambung...
entah kenapa..
kalo ngedengerin lagu ini kok kesannya gw tuh lagi capeeeekkkk...banget..
serasa jadi orang yang sedang melepas lelah setelah seharian bekerja keras...
capek...letih...

gw seneng ngedengerin lagu ini sambil nyelesaiin kerjaan
lagu ini bikin gw rileks
jadi walaupun sambil kerja, gw terkondisi seolah-olah lagi istirahat
jadi gw bisa kerja dengan santai, dan tau-tau kerjaan udah selesai..
bolehlah kalo kalian mau nyoba, asal gak bosen aja...

yah setidaknya pas kerja gw bisa lebih bersemangat..
beda kalo jam kerja berakhir
begitu gw masuk ke kamar, kelelahan itu langsung melanda
rasanya badan udah abis aja
seringnya gw langsung ketiduran begitu nyampe di kamar
ada baiknya juga sih...kebiasan ngemil malem gw jadi terhambat
hihihi...

saat-saat seperti itu mungkin alangkah tepatnya kalo ngedengerin lagunya Mas Powter ini...
walaupun gak ngalamin Bad Day, tapi gw pengen dengerin ini di saat kondisi gw lagi bener-bener jatuh, down, kelelahan...fisik dan mental..

membayangkan gw masuk kamar, tanpa menyalakan lampu, membuka jendela, duduk di ambang jendela sambil minum air dingin......menikmati desiran angin malam diiringi denting Piano...
hmmmm...................

========================================================================
mereka bilang gw  melakukan hal yang sia-sia
mencoba menangkap bayangan

..................

mungkin gw mengabaikan nasehat kalian
gw tetap yakin dan percaya
mungkin tangan kalian tak terulur...
itu tidaklah apa-apa
tapi tolonglah, bila nanti gw jatuh karena kekeraskepalaan gw
janganlah kalian mentertawakan gw
gw sudah cukup sakit
biarlah sakit gw cuma buat gw rasain sendiri
tapi bila kekeraskepalaan gw bisa mencairkan gunung karang itu
percayalah....
kepada kalianlah kebahgiaan itu akan gw bagi....
mohon dukungannya ya...